Pariwisata

Pada masa sekarang, Kabupaten Kutai Kartanegara telah menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata Unggulan di Provinsi Kalimantan Timur dengan berbagai peninggalan budaya pada masa Kerajaan Kutai yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Pesona wisata di Kutai Kartanegara secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) bagian kelompok besar, yakni pesona alam dan pesona budaya.

I. Pesona Budaya

Kutai Kartanegara memiliki warisan budaya yang memberi pesan dan kesan kepada generasi penerusnya bahwa di wilayah ini pernah ada kehidupan yang memiliki budaya tinggi. Warisan tersebut mencakup berbagai seni budaya seperti seni tari, seni kriya, tenun, dan seni pahat, peninggalan arkeologi dan tradisi. Bahkan kekayaan seni budaya tersebut masih sangat kental dan menjadi suatu pemandangan yang eksotik yang dapat ditemukan dalam keseharian penduduk setempat.

Peninggalan seni – budaya ini masih dapat disaksikan terpahat di prasasti – prasasti peninggalan kerajaan Hindu Kutai Ing Martadipura seperti situs situs, makam – makam raja, Istana Sultan, dan tempat – tempat lain yang masih berkaitan dengan kehidupan seni budaya di Kutai Kartanegara. Peninggalan situs jaman kolonial Belanda juga masih dapat ditemui di Kutai Kartanegara, karena di salah satu kecamatan pernah terjadi peristiwa heroik.

Warisan budaya yang dimiliki ini bukanlah sekedar benda mati tanpa makna, namun semua warisan budaya ini perlu dilestarikan dan diteliti lebih dalam lagi menyangkut nilai – nilai kearifan masa lalu yang mungkin dapat diaktualisasikan kembali saat ini. Kearifan masyarakat Dayak yang hidup berdampingan dengan alam merupakan cermin yang selalu relevan pada setiap masa. Nilai – nilai luhur ini perlu dilestarikan dan dijaga, sehingga kelestarian peninggalan budaya dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam pembangunan Kabupaten Kutai Kartanegara. Beberapa pesona budaya yang sudah dikembangkan menjadi objek wisata, diantaranya adalah:

 

1.      Situs Muara Kaman

Muara Kaman merupakan daerah cikal bakal berdirinya Kerajaan Kutai pada abad ke-4 dengan rajanya yang terkenal yakni Raja Mulawarman. Muara Kaman yang dalam lembar Sejarah Nasional Indonesia diklaim sebagai sentral Kerajaan Hindu tertua pada abad ke IV di negeri ini, disebut sebagai tonggak awal penelusuran Kerajaan Kutai atau Kerajaan Kutai Martapura (Martadipura). Bukti jejak sejarah itu terpahat dalam 6 Prasasti Yupa, yang mengkisahkan: area Kerajaan Kutai terletak di Muara Kaman. Prasasti Yupa juga mencatat bahwa Raja Kudungga disebut sebagai pendiri kerajaan.

Salah satu bukti bekas peninggalan Kerajaan Kutai yang masih dapat dijumpai di Muara Kaman adalah sebuah batu berbentuk balok panjang yang disebut Lesong Batu. Batu ini lah yang menjadi bahan untuk membuat prasasti yupa pada masa kejayaan kerajaan Hindu tertua di Indonesia tersebut. Lesong Batu ini merupakan peninggalan sejarah yang masih tersimpan secara utuh di Muara Kaman. Lesong Batu merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Hindu Kutai dibawah kepemimpinan Raja Mulawarman Nala Dewa.

Yupa berasal dari bahasa Sansakerta, yang artinya tegak. Batu tegak berbentuk balok panjang yang disebut Lesong Batu itu, dulunya dalam posisi berdiri, kini berbaring diatas tanah. Selain Lesong Batu,     di lokasi ini masih dapat dijumpai sisa-sisa peninggalan Kerajaan Kutai, seperti batu kepala babi, kubu-kubu kuno, dan lain-lain.

 

2.      Kompleks Makam Sultan Kutai Kartanegara

Kompleks Makam Sultan Kutai Kartanegara berada dalam satu kawasan dengan Kedaton Kutai Kartanegara dan Museum Mulawarman. Di kompleks ini terdapat 142 makam para kerabat dan Sultan Kutai Kartanegara. Nisan (jirat) para Sultan serta kerabat Kesultanan Kartanegara terbuat dari kayu besi (ulin) dan terukir tulisan Arab. Dilihat dari berbagai nisan yang ada di kompleks pemakaman ini, diindikasikan terdapat percampuran kebudayaan yang tercermin pada bentuk nisan. 

Ragam hias yang terdapat pada nisan di Makam Sultan Kutai Kartanegara menyerap unsur budaya lain seperti budaya Bugis, Makassar, Dayak, dan Islam. Percampuran budaya tersebut terlihat dari kekhasan ragam hias yang diwakili dan dimiliki oleh masing-masing budaya yang tercermin pada ragam hias di Makam Sultan Kutai Kartanegara. Masing-masing kekhasan tersebut adalah:

a. Ragam hias Makassar: helai mawar, mawar, bonggol bunga, lingkaran, swastika, tumpal, belah ketupat, dan ular.

b.   Ragam hias Bugis: bintang, belah ketupat, helai mawar, tumpal, dan gada 

c.   Ragam hias Dayak: pelipit, mawar, gada (blontang), dan ular.

d.   Ragam hias dengan pengaruh Islam: kaligrafi, swastika banji dan stilir ekor, bingkai cermin, kepala dan badan ular.

Pengaruh beberapa kebudayaan tersebut dapat ditelusuri lewat beberapa hal, misalnya pemerintahan (kebijakan kerajaan) yang memberikan kebebasan terhadap masuknya budaya pendatang dan faktor kekerabatan antara penguasa Kutai Kartanegara dengan etnis lain di luar Pulau Kalimantan. Faktor pemerintah (kebijakan kerajaan) yang memberikan tempat bagi masuknya budaya luar dan memberikan tempat bagi budaya asli (Dayak) tercermin lewat pedoman pemerintah Kesultanan Kutai Kartanegara yang disebut Panji Salaten.

 

3.      Desa Budaya Lekaq Kidau

Desa Budaya Dayak Kenyah Lekaq Kidau adalah salah satu obyek wisata yang menyajikan berbagai keunikan, mulai dari kehidupan sehari-hari hingga adat istiadat. Di dusun ini, dapat disaksikan langsung aktivitas keseharian masyarakat Dayak Kenyah bercocok tanam dengan menggunakan peralatan sederhana. Selain itu, dapat juga menyaksikan kaum perempuan menguntai manik-manik menjadi gelang, kalung, tas punggung, ikat kepala, tameng, dan hiasan kepala.

Masyarakat adat Suku Dayak Lekaq Kidau masih teguh menjalankan berbagai tradisi dan adat istiadat nenek moyang mereka. Meskipun telah ditempatkan seorang kepala desa, namun dusun ini tetap dipimpin oleh seorang kepala adat yang bertugas menyelesaikan masalah-masalah adat, misalnya perselisihan di antara para warga. Bagi yang dianggap bersalah,

maka akan mendapat hukuman denda sesuai dengan perbuatannya, seperti denda dengan mandau, tajau, uang, dan sebagainya.

Pada waktu-waktu tertentu, seperti ulang tahun desa, hari natal, tahun baru, atau ketika musim panen, masyarakat setempat mengadakan Festival Budaya Adat Dayak Kenyah Lekaq Kidau dengan menggelar kegiatan seni budaya, seperti tari-tarian dan upacara adat. Dalam festival ini juga diisi dengan berbagai kegiatan olahraga tradisional, seperti begasing, menyumpit, dan lomba perahu tradisional.

 

II. Pesona Alam

Pemberdayaan sektor wisata menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara yang telah dikumandangkan sejak tahun 2000 silam, dan kini sedikit demi sedikit mulai menampakkan hasil yang nyata. Pesona alam yang dimilikinya kini mulai di kemas dan di kelola sedemikian rupa menjadi obyek – obyek wisata yang menarik minat banyak orang. Beberapa pesona alam di kabupaten Kutai Kartanegara yang sudah dikembangkan menjadi obyek – obyek wisata antara lain :

1.     Kawasan Wisata Alam Bukit Bangkirai

Obyek wisata alam Bukit Bangkirai adalah sebuah kawasan konservasi hutan yang terletak di Km. 38 Jalan Raya Soekarno – Hatta, Balikpapan – Samarinda, dan masuk wilayah Kecamatan Samboja. Kawasan wisata alam Bukit Bangkirai merupakan hutan alam yang dekat dengan wilayah perkotaan, digunakan sebagai monumen hutan tropis    di Kalimantan Timur, didominasi oleh jenis flora dari famili Dypterocarpaceae seluas      1.500 Ha.

Bukit Bangkirai diresmikan pada tanggal 14 Maret 1998 oleh Ir. Djamaluddin Suryohadikusumo yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Kehutanan Kabinet Pembangunan VI. Kawasan ini mempunyai peran penting untuk sarana pendidikan lingkungan hidup ( wisata ilmiah ) dan kehutanan.

 

2.     Borneo Orangutan Survival ( BOS ) Foundation Samboja

Lembaga ini terdiri atas 3 pengelolaan, yaitu BOS, Samboja Lestari, dan Samboja Lodge. Borneo Orangutan Survival adalah program suaka perlindungan untuk hewan – hewan yang dilindungi dan sudah mulai punah, yakni Orangutan dan Beruang Madu. Awal sejarah berdirinya BOS tahun 1991 adalah proyek rehabilitasi Orangutan. Program ini sangat cocok untuk dijadikan wisata pendidikan dan penelitian. Samboja Lestari adalah program yang mengedepankan misi kelestarian lingkungan di dalamnya. Samboja Lodge adalah sarana cottage, yang menawarkan beberapa program ekowisata antara lain rehabilitasi satwa, kegiatan lahan kritis, kegiatan kebun organik, kegiatan pembuatan pupuk organik, dan pengamatan kehidupan liar yang ada di sekitar kawasan Borneo Orangutan Survival Foundation Samboja.

3. Danau Semayang

Daya tarik wisata Danau Semayang termasuk salah satu fenomena alam yang menyuguhkan keindahan dan potensial alam dan dapat diberdayakan menjadi obyek wisata alam unggulan. Di tempat ini, masih dapat ditemui habitat Ikan Pesut atau Lumba - Lumba Air Tawar yang saat ini sudah hampir punah, bahkan jarang ditemui. Para pengunjung yang melalui Danau Semayang khususnya pada sore hari dapat menikmati keindahan alam ketika matahari terbit di ufuk timur atau pada saat ter- benam di ufuk barat.

 

            Kabupaten Kutai Kartanegara masih memiliki sejumlah pesona alam lainnya yang tak kalah menarik, dan siap untuk dikembangkan menjadi obyek wisata unggulan, seperti Danau Melintang, Pantai Tanah Merah, Pantai Ambalat, dan Pulau Pangempang. Guna mewujudkan Kutai Kartanegara sebagai daerah tujuan wisata, tidak terlepas dari peranan seluruh komponen masyarakat, pelaku usaha dan jasa pariwisata, serta pemerintah daerah.